sekilas info

Kamis, 29 Desember 2011

Biografi Dullah (1919 - 1996)

Dullah lahir di Solo pada tahun 1919. Seniman ini dibuat sendiri sekali mengakui bahwa Affandi dan S. Soedjojono adalah guru yang hebat, tetapi pada kenyataannya ciptaan-Nya yang jelas mengikuti sekolah realisme cukup berbeda dengan karya-karya dua tuan atas yang besar. Sejak awal kemerdekaan, Dullah sangat dekat dengan Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.
Karena itu ia ditunjuk oleh Soekarno untuk mengurus semua seni posessions Presiden dan pada saat yang sama sebagai kurator koleksi lukisan negara. Dia sering disertai presiden pada perjalanan di sini di rumah maupun di luar negeri.
Itu Dullah yang dipilih 206 lukisan dari koleksi pribadi Soekarno dengan Cina ahli difoto dan kemudian direproduksi dalam "deluxe" dua volume monograf kedodoran dalam edisi sangat terbatas dicetak di Republik Rakyat Cina pada tahun 1956. Teks oleh Soekarno dan Dullah itu dalam empat bahasa: Indonesia, Cina, Inggris dan Rusia. Karena edisi terbatas (hanya 6000 eksemplar) dua volume monograf 'de luxe' yang hanya dibagikan kepada individu-individu yang dipilih dan kolektor seni, dan pasokan itu segera habis. (Publikasi kedua dari koleksi seni Presiden Soekarno berada di lima volume, yang disusun oleh seniman pelukis Lee Man Fong, dicetak di Jepang dalam edisi de luxe, dan banyak dijual dan didistribusikan ke seluruh Republik,)
Setelah tidak lagi bertanggung jawab atas koleksi seni Presiden Soekarno, Dullah dihapus ke Solo kota kelahirannya dan menetap di sana bersama keluarganya, tetapi menghabiskan sebagian besar waktu kreatif di Bali bersama-sama dengan sekelompok muridnya. Kelompok menetap di Ubud dan kemudian pindah ke Pejeng. Dullah juga menjalankan sebuah galeri seni di Mas di mana sebagian besar pekerjaan baik-Nya berada di layar untuk penjualan. Banyak lukisannya dibeli oleh turis asing dan seni lokal yang colectors membuat namanya terkenal luas sebagai pelukis seniman terkemuka di Indonesia yang realistis.
Pada usia 70, Dullah dibangun museum di Solo semua dengan sendiri tanpa bantuan keuangan dari pemerintah atau lembaga swasta lainnya. Hal ini dilakukan sebagai dedikasinya untuk cinta seni selama seumur hidup kreatif.
Semua lukisan yang dipamerkan Dullah di museum ini adalah menakjubkan dalam lingkup mereka dan sensitif dalam drama mereka.
Pada tahun 1996 Dullah damai meninggal di tempat ini, bequething ke generasi berikutnya mencintai seni untuk datang, sendiri museum dibangun satu orang 'yang sekarang dengan bangga berdiri sebagai tengara budaya, terbuka untuk setiap pengunjung dengan cinta untuk seni.
Masukkan Alamat Blog/Web Max 10 Url:
(

0 komentar:

Poskan Komentar